Bakteri

Nama Bakteri berasal daribahasa yunani “ bakterion “yang berartibatang atau tongkat.

1. Morfologi Bakteri

a. Ukuran bakteri

Pada umumnya ukuran bakteri sangat kecil, umumnya bentuk yubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 1000 X atau lebih. Bakteri berbentuk kokus ada yang berdiametr 0.5 mikron, ada pula yang berdiameter sampai2.0 mikron. Pada umumnya Bakteri yang berumur 2-6 jam lebih besar daripada bakteri yang umurnya lebih daripada 24 jam.

b. bentuk Bakteri

secara garis besar morfologi bakteri dapat dikelompokkan ke dalam 3 golongan, yaitu :

1. Bacillus

Merupakan bakteri yang mempunyai bentuk tongkatpendek/batang kecil dan silindris. Sebagian bakteri berbentuk basil. Berdasarkan jumlah koloni, Basil dapat dibaci menjadi beberapa kelompok, yaitu :

· Monobasil yaitu basil yang hidup menyendiri tunggal.

· Diplobasil yaitu bila koloni Basil terdiri dari 2 Basil.

· Streptobasil, bila koloni bakteri berbentuk rantai.

2. Coccus

Coccus adalah bakteri yang mempunyai bentuk bulat seperti bola-bola kecil. Berdasarkan jumlah koloni, Coccus dapat dibedakan menjadi :

· Monococcus, bila coccus hidup menyendiri,

· Diplococcus, bila coccus membentuk koloni terdiri dari 2 Coccus,

· Streptococcus, bila koloni berbentuk seperti rantai.

· Stafilococcus, bila koloni Bakteri Coccus membentuk untaian seperti buah anggur.

· Sarsina, Bila koloni bakteri mengelompok serupa kubus.

· Tetracoccus, bila koloni terdiri dari 4 coccus.

3. Spirillium

Spiril merupakan bakteri yang berbentuk bengkok atau sperti spiral. Bakteri yang berbentuk spiral sangat sedikit jenisnya.

c. Spora Bakteri

Istilah Spora biasanya dipakai untuk menyebut alat perkembang biakan pada jamur, ganggang, lumut, dan tumbuhan paku-pakuan. Pada bakteri mempunyai istilah lain, yaitu bentuk bakteri yang sedang dalam usaha melindungi diri dari pengaruh yang buruk dari luar. Spora bakteri mempunyai fungsi yang sama seperti kists amoeba, swbab spora ini merupkan suatu fase, dimana mikroorganisme berubah bentuk untuk melindungi diri terhadap factor-faktor luar yang tidak menguntungkan. Spora pada Bakteri adalah endospora, karena spora dibentuk didalam sel.

Baktreri dalam bentuk spora lebih tahan terhadap disinfektan, sinar, kekeringan, panas, dan kedinginan. Hal ini karena dinding spora lebih bersifat impermeable dan spora mengandung sangat sedikit air, sehingga menyebabkabspora tidak mudah mengalami perubahan temperature.

2.4 Pewarnaan

1. Sifat sel microbe

Pada umumnya bakteri bersifat tembus cahaya, hal tersebut disebabkan banyak mikrob yang tidak mempunyai warna, seperti umumnya pada bakteri. Bakteri yang masih hidup tidak tampak jelas bentuk maupun sifat-sifat morfologi lainnya. Bakteri tunggal , yaitu yang berupa satu sel sajahanya kelihatan bening saja, meskipun bakteri tersebut diambil dari bentuk koloni tertentu. Oleh karena itu untuk memperlhatkan bagian-bagian sel diperlukan pewarnaan.

2. metode pewarnaan microbe

· Pewarnaan spora

· Pewarnaan kapsula

· Pewarnaan flagella

· Pewarnaan badan inklusi

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi.
Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan ion antara komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna. Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan pewarna asam dan pewarna basa.
Pewarna asam dapat tejadi karena bila senyawa pewarna bermuatan negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung bermuatan negatif, sehingga pewarna asam yang bermuatan negatif akan ditolak oleh dinding sel, maka sel tidak berwarna. Pewarna asam ini disebut pewrna negatif. Contoh pewarna asam misalnya : tinta cina, larutan Nigrosin, asam pikrat, eosin dan lain-lain. Pewarnaan basa bisa terjadi biasenyawa pewarna bersifat positif, sehingga akan diikat oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri jadi terwarna dan terlihat. Contoh dari pewarna basa misalnya metilin biru, kristal violet, safranin dan lain-lain.
Teknik pewarnaan asam basa ini hanya menggunakan satu jenis senyawa pewarna, teknik ini disebut pewarna sederhana. Pewarnaan sederhana ini diperlukan untuk mengamati morfologi, baik bentukmaupun susunan sel. Teknik pewarnaan yang lain adalah pewarnaan diferensial, yang menggunakan senyawa pewarna yang lebih dari satu jenis. Diperlukan untuk mengelompokkan bakteri misalnya, bakteri gram positif dan bakteri gram negatif atau bakteri tahan asam dan tidak tahan asam. Juga diperlukan untuk mengamati struktur bakteri seperti flagela, kapsula, spora dan nukleus.
Teknik pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang belkau yakni sebagai berikut:
mempersiapkan kaca obyek. Kaca obyek ini harus bersih dan bebas lemak, untuk membuat apusan dari bakteri yang diwarnai.
mempersiapkan apusan. Apusan yang baik adalah yang tipis dan kering, terlihat seperti lapisan yang tipis.
Apusan ini dapat berasal dari biakan cair atau padat.
Biakan Cair. Suspensi sel sebanyak satu atau dua mata jarum inokulasi diletakkan pada kaca obyek. Lalu diapuskan pada kaca obyek selebar … cm. Biarkan mengering diudaraata diatas api kecil dengan jarak 25 cm
· Biakan Padat. Bakteri yang dikultur pada medium padat tidak dapat langsung dibuat apusan seperti dari biakan cair, tapi harus diencerkan dulu. Letakkan setetes air pada kaca obyek, lalu denganjarum inokulasi ambil bakteri dari biakan padat, letakkan pada tetesan air dan apusan. Biarkan mengering diudara.
· Fiksasi dengan pemanasan. Apusan bakteri pada akaca obyek bila tidak diletakkan secara kuat, dapat terhapus pada waktu proses pewarnaan lebih lanjut. Proses peletakan apusan pada kaca obyek dapat dilakukan diantaranya dengan cara memanaskan diatas api

Proses pewarnaan diferensial ini memerlukan 4 jenis reagen. Bakteri terbagi atas dua kelompok berdasarkan pewarnaan ini, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Perbedaan ini berdasarkan warna yang dapat dipertahankan bakteri. Reagen pertama disebut warna dasar, berupa pewarna basa, jadi pewarna ini akan mewarnai dengan jelas. Reagen kedua disebut bahan pencuci warna (decolorizing agent). Tercuci tidaknya warna dasar tergantung pada komposisi dinding sel, bilakomponen dinding sel kuat mengikat warna, maka warna tidak akan tercuci sedangkan bila komponen dinding sel tidak kuat menelan warna dasar, maka warna akan tercuci. Reagen terakhir adalah warna pembanding, bila warna tidak tercuci maka warna pembanding akan terlihat, yang terlihat pada hasil akhir tetap warna dasar.
2.5 PEMBUATAN MEDIA
Kelangsungan hidup dan pertumbuhan mikiroorganisme dipengaruhi oleh adanya nutrisi dan faktor lingkungan. Bahan nuttrisi yang tersdia dapat berupa bahan alami dapat pula berupa bahan sintetis. Bahan nutrisi yang digunakan mikrorganisme biasanya berupa senyawa sederhana yang tersedia secara langsung atau berasal dari senyawa yang kompleks yang kemudian dipecah oleh mikrorganisme menjadi senyawa yang sederhana melalui proses enzimatik. Bahan nutrisi ini dapat berupa cairan atau padatan setengah padat (semi solid). Yang kemudian disebut Media
Berdasarkan komposisi atau susunan bahannya.
media alami/organik Komposisi media ini tidak diketahui secara pastibaik jenis maupun ukurannya. Media ini sudah tersedia secara alami misalnya air, nasi, buah, biji dan lain-lain
Media sintetik/anorganik. Sering juga disebut media buatan. Komposisi senyawa berikut takarannya diketahui secara pasti, tidak tersedia secara alami tapi dibuat. Media sintetik sering digunakanuntuk mempelajari sifat faali dan genetika mikrorganisme. Senyawa organik dan anorganik ditambahkan dalam media sintetik harus murni, sehingga harganya mahal, misalnya: Sabouroud Agara, Czapek’s Agara dan lain-lain
Media Semi-sintetik. Komposisinya sebangian diketahui secara pasti, sebagian lagi tidak, disebut juga medium setengah buatan, misalnya, PDA, NA dan lain-lain
Berdasarkan bentuknya
media cair. Komposisi dapat sintetik dapat pula alami. Keadaan cair karena tidak ditambahkan bahan pemadat
media padat. Sama seperti media cair, bedanya disini ditambahkan bahan pemadat (agar-agar, amilum atau gelatin)
media semi-padat. Sebenarnya media ini termasuk media padat, tapi karena keadaannya lembek disebut semi-solid. Bahan pemadat yang ditambahkan kurang dari setengah medium, padat
Berdasarkan Kegunaannya
media umum. Digunakan secara umum artinya media ini dapat ditumbuhi oleh berbagai jenis mikrorganisme baik bakteri maupun jamur, misalnya NA (Nutrient Agar) dan lain-lain
media selektif. Media ini dipakai untuk menyeleksi mikrorganisme sesuai dengan yang diinginkan, jadi hanya satu jenis mikrorganisme saja yang dapat tumbuh dalam media ini atau hanya satu kelompok tertentu saja, misalnya media Salmonella atau Sigella dari makanan atau bahan lain
media diferensial. Media ini juga dipergunakan untuk menyeleksi mikrorganisme. Media ini dapat ditumbuhi berbagai jenis mikrorganisme tapi salahsatu diantaranya dapat memberikan ciri yang khas sehingga dapat dibedakan dari yang lain dan dapat dipisahkan
media pengaya. Medium ini gunanya untuk menumbuhkan mikrorganisme untuk keperluan tertentu. Dibiakkan dalam medium ini supaya sel-sel mikrorganisme tersebut dapat berkembang dengan cepat sehingga diperoleh populasi yang tinggi. Kompossisi medium sangat diperlukan dan sangat menguntungkan bagi pertumbuhan sel mikrorganisme yang bersangkutan

2.5 STERILISASI
Suatu bahan disebut steril apabila bahan tersebut bebas dari mikroorganisme. Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu: cara kimia, mekanik atau fisik.
Sterilisasi cara Kimia. Bahan / senyawa kimia yang memiliki sifat membunuh mikroorganisme dapat digunakan untuk sterilisasi (disinfektan), misalnya dibidang kedokteran. Contohnya alkohol 70%, detergen, karbon, lisol, merkurokhrom dan lain-lain.
Sterilisasi cara mekanik. Sterilisasi ini dilakukan dengan menggunakan alat penyaring yang sangat halus, dengan lubang berdiameter 0,02-0,45 mikron, misalnya Seitz filter, Chamberland filter, milipore, dan lain-lain.
Sterilisasi Cara Fisik. Umumnya dfilakukan dengan cara pemanasan pada suhu tinggi. Salah satu contohnya adalah menggunakan autoklaf, disterilkan pada suhu 121 °C dengan tekanan 1.5 Kg/cm (15 lbs) dalam jangka waktu tertentu bergantung pada apa yang disterilkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: